watch sexy videos at nza-vids!

WELCOME KATILAMPOK

Vinny N Vennus


...ujung vibrator itu perlahan melesak masuk. Gadis-gadis yang lain menahan nafas. Mata mereka membeliak, saat melihat bibir kemaluan Vinny yang membuka. Vinny menekan pangkal vibrator, hingga masuk hampir setengahnya. Wajah gadis itu menunjukkan sebuah kenikmatan. Pegangannya pada pangkal vibrator lalu dilepaskan. Suasana hening benar saat itu. Seperti ada setan lewat. Vibrator itu menancap. Gerakan-gerakan kecil lalu terlihat. Vinny menggunakan ototnya, memainkan bagian vibrator yang masuk ke dalam.
"Hhhhh," Vinny mendesah nikmat.

"WAAA!! DORRR!!" Vinny mendadak menarik kepalanya ke depan dan berteriak. Gadis-gadis di sekitarnya terkejut setengah mati. Hilda nyaris terguling dari kasur.
"Gilaaaaa!!"
"Vinny!! Sinting kamu!"
"Ngga ikutaaaann!!!"
"Huaaaaaa!!! Apaan!!"
Histeria massal terjadi. Vinny tergelak.
"Eeeee," gadis itu menyela, "ini belum seberapa enaknya."
Yang lain terdiam. Menunggu sambil tersenyum-senyum. Di mata Vinny, gadis-gadis sahabatnya itu terlihat penuh nafsu. Si gadis menyeringai. Vinny meraih kabel yang tersambung dengan pangkal vibrator. Jemarinya meraih tombol kecil di ujung kabel. Ctik! Rrrrrrrrrrr....rrrr..... Sahabat-sahabatnya memandang dengan takjub, saat vibrator itu mulai bergetar. Bagian pangkalnya yang berbentuk scrotum tampak bergoyang-goyang. Vinny menutup matanya. Bibirnya setengah terbuka. Kedua tangannya segera merengkuh buah dadanya sendiri. Memijat dan meremas.
"Aahhh...hhh...ngg....," desahan dan erangan nikmat keluar dari bibirnya.
Delapan mata menatap. Empat tubuh panas dingin.
Sepuluh menit kemudian, tubuh Vinny bergetar. Keringat tampak keluar dari pelipisnya. Satu erangan tertahan, Vinny mengejang. Ujung kakinya tertarik lurus. Bulu-bulu halusnya berdiri. Pori-pori kulitnya mengerut. Klimaks.
Hening.

Vinny menarik keluar vibrator dari dalam kemaluannya. Perlahan, begitu menikmati. Delapan mata masih memandang. Sejuta perasaaan bertempur dengan norma-norma. Vinny menghela nafas. Memejamkan mata. Saat membukanya kembali, gadis itu tersenyum. Wajahnya tampak lelah.
"Bagaimana?"
Sahabat-sahabatnya bagaikan terbetot dari alam mimpi. Menghembuskan nafas panjang, cermin kelelahan hati dan pikiran mereka. Jantung masing-masing masih terasa berdebar. Tak sadar, nafsu mulai menggerogoti benak mereka.
"Vin," Erna berbisik, "kamu sudah ngga perawan...."
Vinny mendengus, "Sudah sejak aku lima belas tahun."
Hilda menggeleng-gelengkan kepala, "Sama siapa, Vin?"
"Sama ini," Vinny mengacungkan vibrator yang masih terlihat mengkilat. Teman-temannya melongo. Vinny tertawa. Akhirnya mereka berlima tertawa berbarengan.
"Vin, kamu ngga takut ngga dapat suami?" tanya Lusi.
Sambil tersenyum, Vinny bangkit berdiri. Membetulkan letak celana dalamnya. Memandang nakal, si bengal tersenyum.
"Ada caranya kok. Biar tetap perawan."
"Ha?"

Malam itu. Tiga gadis kehilangan keperawanannya. Hilda memilih untuk melihat saja. Teman-temannya mengejek, tapi Hilda berkutat. Masih waras.

Vinny mengakhiri pertemuan binal itu keesokan harinya, sebelum mereka pulang, dengan menegaskan satu hal:
"Kalau dalam pacaran. Ingat. Kesetiaan adalah sesuatu yang utama. Boleh nakal. Boleh mainin cowok. Tapi jangan mendua. Itu bisa jadi kesalahan fatal. Begitu kalian mendua, maka, jika suatu saat cowok kalian sadar kalau kalian sudah tidak..ehm...maka kalian takkan bisa melarikan diri dari tuduhan. Dia bisa buta, namun dunia kan tidak?" Tak ada satupun yang tidak menganggukkan kepala. Vinny tersenyum. Di mata sahabat-sahabatnya, si gadis tetap nomor satu. Guru masalah bandel-bandelan. Guru tentang lelaki. Guru tentang segalanya. Tapi tetap sosok yang baik dan layak ditiru.

-o-

CHAPTER II
Vinny : The first encounter...

"Stop, Jo! Stop! Jangan!" Vinny merintih. Air keluar dari sudut matanya. Pemuda yang menggelutinya menarik tubuh. Wajahnya terliha pucat dan basah oleh keringat.
"Sori, Vin. Sori. Maaf," pemuda itu berkata tergagap. Si gadis balikkan tubuh, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Vin? Vin? Kamu nggak apa-apa, Vin?" Johan menarik pundak kekasihnya. Si gadis tak melepaskan telapak tangan. Bahunya berguncang. Ia menangis.
Johan kebingungan. Cepat-cepat pemuda itu angkat tubuhnya dari atas tubuh si gadis. Jemarinya dengan gugup membetulkan kancing baju si gadis yang sudah terlepas seluruhnya. Matanya masih menangkap dua gumpalan buah dada yang begitu menantang menyembul dari balik bra si gadis yang setengah tersingkap. Membulatkan tekad, melandaskan semuanya atas nama kasih sayang, Johan memalingkan mata.
Si gadis masih terisak.
"Jo...kamu tega.....," isak Vinny dari balik telapak tangannya.
"Vin, aku ngga maksud begitu. Vin! Sudah dong."
Vinny melepaskan telapak tangannya. Wajahnya terlihat merah dan basah. Johan menghela nafas. Betapa ia mencintai gadis yang satu ini. Pemuda itu jatuhkan kepalanya di dada si gadis.
"Sori, Vin. Aku sayang kamu. Aku ngga bakal ngerusak kamu."
Vinny, masih terisak, turunkan tangannya. Jemarinya menyisiri rambut si pemuda yang ikal.
"Jo. Vinny ngga apa-apa kalau hanya sebatas sentuhan. Tapi jangan yang lain ya, Jo. Nanti kalau kita menikah, Vinny janji kasih Jo semuanya."
Johan mengangguk lemah. Hasratnya ditindih. Sekejap pemuda itu merasa membenci dirinya sendiri. Vinny begitu manis. Seharusnya ia sudah puas dengan ijin si gadis untuk menyentuhnya dari luar. Tak perlu pakai acara buka pakaian. Tak perlu. Ia harus bersabar. Ia akan mencintai gadis ini. Sepenuh perasaannya.
"Aku sayang kamu, Vin."
"Vinny tahu, Jo. Vinny tahu."

Malam itu Johan pulang setelah mengantar Vinny ke rumah, dengan membuang hasratnya jauh-jauh. Satu kecupan yang lembut dari Vinny di keningnya. Bukan ...

CHAPTER I
Vinny : The Introduction

Vinny, tujuh belas tahun. Pembangkang. Keras kepala. Suka main-main dalam segala hal. Sanguinis Populer. Sejak kecil, hidupnya bergelimang harta. Seperti layaknya keluarga `sok' modern, orientasi orang tuanya tak lebih dari sekedar materi. Kasih sayang, hanya sekedar normalitas, juga dalam bentuk materi.
Vinny tumbuh dan berkembang dengan semaunya. Tumbuh bersama susu kaleng dan timangan baby-sitter. Ia gadis. Ia seorang perempuan. Kuntum yang mekar di usia ke-enam belas. Menawan. Membuat mata setiap pemuda tak pernah melewatkannya. Prestasi. Tanyakan pada Vinny, ia tahu segalanya. Walking Dictionary, kata mereka. Organisasi. Jangan heran. Kharisma, itu ia miliki. Saat ia diam, semua diam. Saat ia tertawa, semua tertawa. Venus, itu julukan dari para `fans'. The Goddess.

Suatu malam, sebuah villa di Tretes
tiga hari setelah ulang tahun Vinny yang ke-tujuh belas....

"Waaahh.. Vinny seksi!" Hilda bersorak-sorak, tangannya menarik celana dalam si gadis sampai ke bawah pantat. Vinny menjerit. Sambil tertawa membalikkan tubuhnya. Mereka berdua bergulat di atas tempat tidur. Terkekeh dan saling gelitik. Erna, Lusi dan Tia tertawa dari jauh. Mereka ngga mau ikutan. Risih. Beberapa saat kemudian, Vinny bangkit dengan nafas tersengal.
"Hhh...hhh... beratnya memperkosa wanita," senyumnya. Gadis-gadis itu tertawa lagi. Hilda tampak ngos-ngosan sambil terlentang tak berdaya.
"Vinny dahsyat," Hilda mendesah.

Pajamas Party. Situasi yang menyenangkan. Ajang kumpul cewek. Gossip, canda, dan segala macam yang `di rumah dilarang ortu'. Seperti yang mereka lakukan malam itu. Vinny, dan keempat sahabatnya.
Lengkap sudah persiapan mereka. Tiga botol Vodka. Dua bungkus Capri. Dan video porno. Semua ini tak lain adalah ide Vinny, si bengal. Lima puluh ribu perak, maka Sardjono, si tukang jaga villa, bisa menghabiskan malam di Pandaan, bersama isterinya. Gadis-gadis bebas. Tanpa kompromi. Biasanya, sih, pada bikin dosa.

"Vinny, dadaku sakit," Hilda mengeluh, memencet buah dada kirinya yang tadi tertindih sikut. Yang lain pada mesam-mesem. Vinny mengggerutu.
"Gitu aja sakit. Nanti kalau diremas cowok, rasanya lebih dari itu, tahu?"
"Gimana, Vin?" tanya Erna sambil cengengesan.
Vinny menekuk jemarinya, membuat gerakan meremas udara.
"Nyam," bisiknya, lalu mengambil jeda. "Enak, bow."
Yang lain pada cekikikan. Tia sampai terbatuk, batang rokoknya terjatuh-maklum, baru pertama kali mencoba.
"Tapi," Vinny berkata, "kalian tahu ngga apa yang paling enak?"
"Apa?" tanya Hilda, masih juga memijati dadanya.
Vinny memandang ke arah sahabat-sahabatnya. Gayanya sok misterius. Lalu dengan tersenyum ia mendesis, "Burungnya cowok. Dahsyat!" Teman-temannya kontan tergelak.
"Emang kamu tahu, Vin?" tanya Lusi, setelah tawanya berhenti. Vinny nyengir.
"Yeh, kalau ngga tau ngapain bisa bilang enak?"
"Waaahh," keempat gadis yang lain berseru.
Vinny membusungkan dadanya yang indah. Menekan dengan jari telunjuk, salah satu buah dadanya. "Dari sini, nih," katanya, "kurang ada rasanya."
Lalu gadis itu mengarahkan telunjuknya ke depan selangkangan.
"Nah, yang di sini," cengirnya, "baru kerasa enaknya."
"Wah," seru Tia melongo, "sama siapa, Vin? Si Emon?"
"Emon?" Vinny menyebut nama pacar terakhirnya, yang sudah ia tinggalkan tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya. Jarinya menjentik.
"Emon tuh, burungnya cuman se-upil! Nggak enak! Ancur!"
"Hihihihi."
"Wah, Vinny gokil!"
"Masa sih? Emon yang itu tuh?"
"Bohong, pasti!"

Vinny menoleh ke arah Erna, yang barusan saja menuduhnya berbohong. Pandangannya tajam, tapi bibirnya tersenyum nakal.
"Bohong? Bohong yang mana? Yang seupil itu?"
"Bohong kalau kamu tahu rasanya! Emang kamu berani?" Erna menjawab, menuduh. Vinny menarik kepalanya ke belakang dan tertawa. Begitu kepalanya turun, matanya memandang tak berkedip ke arah teman-temannya.
"Aku akan buktikan!"
keempat gadis yang lain memandang kebingungan.
Vinny bangkit berdiri. Saat itu ia hanya mengenakan kemeja panjang sepaha. No bra. Hanya celana dalam krem bergambar Snoopy. Gadis itu melangkah menuju lemari pakaian di sudut kamar. Matanya melirik ke arah sahabat-sahabatnya, saat tangannya terulur ke dalam lemari.
"Wah!"
"Gila si Vinny!"
"Waduh! Waduh!"
"Hihihi!"
Gadis-gadis itu langsung ribut, saat Vinny mengeluarkan sebuah penis imitasi dari dalam lemari. Vibrator. Seri LO-374. Bisa getar dan goyang. Impor dari Jepang. Lebih sering digunakan dalam pembuatan film porno.
"Aku ngedapetin ini dari lemarinya tanteku," Vinny berkata, sambil melangkah ke tengah sahabat-sahabatnya. Erna, Tia, Lusi dan Hilda langsung mengambil posisi. Mereka tak ingin kelewatan.
"Vin, jangan ah. Bahaya," ucap Hilda sembari meringis.
Yang lain menganggukkan kepala. Vinny hanya menyeringai.
Gadis itu lalu duduk dan melebarkan kaki. Gadis-gadis di sekitarnya memperhatikan dengan wajah tegang. Perlahan, Vinny turunkan vibrator itu, sampai ke depan selangkangannya.
"Kenapa?" tanya si gadis, "Kalian ngga pingin bukti?"
Tak ada sahutan. Semuanya berdebar melihat vibrator di tangan Vinny.
"Hehehe," Vinny terkekeh.
Dengan satu jari, gadis itu menyingkap celana dalamnya. Hilda memekik tertahan. Lusi cekikikan. Sementara Erna dan Tia hanya melongo. Vinny terlihat cuek, walaupun kemaluannya terlihat dengan jelas di depan mata sahabat-sahabatnya. Dasar bengal.

Pelan-pelan, Vinny mendekatkan ujung vibrator itu ke bibir kemaluannya.
"Ahhhhh," Vinny menarik kepalanya ke belakang. Mendesah saat ...

NEXT
BACK||HOME